Selasa, 29 September 2015

Belajar Membuat Roti di Vanhollano Bakery



(28/9/2015) Walaupun Kota Pekanbaru masih dirundung bencana asap namun rencana kegiatan outing peserta didik yang sudah lama direncanakan tetap berjalan dengan lancar. Kegiatan outing kali ini peserta didik berkesempatan untuk belajar di Vanhollano Square  beralamat di jl. Jend. Sudirman Pekanbaru. Kami berangkat dari pukul 08.30 wib, sesampainya di sana kami disambut ramah oleh ibu Gentha Sally Amita sebagai Trainee adm marketing. Dengan jumlah peserta didik sebanyak 23 orang dan guru pendamping sebanyak 2 orang yaitu ibu Reni Ulfia sebagai guru kelas dan ibu Dian Riza Kartina sebagai guru pendamping, kami bersiap untuk mengetahui lebih jauh tentang proses pembuatan roti di sini.

            Kegiatan pertama dimulai dengan praktek cara membuat roti. Kami dipandu oleh Chef Indra. Chef mengajarkan cara memakai topi dan celemek agar tetap bersih selama membuat roti. Kemudian chef menjelaskan ada dua cara yang di ajarkan dalam membuat roti, yaitu yang pertama roti dengan bentuk bulat dengan isi sari kaya dan roti dengan model gepeng dengan isi coklat dan dihiasi toping kreasi peserta didik sendiri. Peserta didik mendengarkan penjelasan chef dengan antusias dan penuh semangat. Sehingga terbentuklah roti-roti mini buatan peserta didik yang bentuknya lucu-lucu. 


            Selesai membuat roti peserta didik dan chef melakukan pengambilan foto bersama di dua tempat yaitu di tempat pembuatan roti dan di halaman depan Van Hollano Square. Lalu dilanjutkan dengan Factory tour atau melihat mesin-mesin yang digunakan untuk membuat roti dari proses awal hingga roti siap untuk dipasarkan. Chef Indra juga memberi penjelasan,  ada beberapa nama mesin yang disebutkan, diantaranya adalah Retader Prover yang berfungsi untuk memanaskan dan mendinginkan roti, selanjutnya ada oven dek, oven rotary dan open matador, dll. 

            Acara outing ini di tutup dengan pembagian reward oleh pihak Vanhollano Square kepada peserta didik yang bisa menjawab pertanyaan seputar pembuatan roti dan nama-nama mesin yang digunakan dalam pembuatan roti. Ada 5 orang peserta didik yang bisa menjawab dan mendapat reward roti yaitu Mahira, Ana, Tama, Aisyah dan Siti. Serta penyerahan sertifikat dari pihak Vanhollano kepada semua peserta didik atas partisipasinya dalam kegiatan outing ini. 


Selasa, 22 September 2015

Buku Adalah Sumber Ilmu






Pepatah mengatakan "Buku adalah Sumber Ilmu". Ada juga pepatah yang mengatakan "Perpustakaan adalah sumber kehidupan."

Outing ke Perpustakaan Wilayah Soeman HS Provinsi Riau dilaksanakan lagi oleh SD Juara Pekanbaru. Outing diikuti oleh 21 orang  Peserta Didik kelas 6 di dampingi oleh Guru Kelas Ibu Fitriyah Misdian dan Bapak Syahrul Barriyah.
Peserta Didik sangat antusias saat Guru Kelasnya mengabarkan akan belajar di luar (outing) ke Perpustakaan Soeman HS Provinsi Riau. Di sela belajar Al-Quran (pelajaran pagi sebelum berangkat Outing), Rindi begitu panggilan akrab siswa ini mengatakan kepada guru Kelompok Al-Qurannya,“Saya lupa bawa kartu perpustakaannya Buk,kan bisa pinjam buku nanti untuk baca baca dirumah."

Sebelum berangkat seluruh siswa kelas 6 diberi pengarahan oleh Guru Kelas. Dengan pengarahan ini diharapkan Peserta Didik Kelas 6 dapat tertib selama mengikuti kegiatan Outing di Perpustakaan Soeman HS sehingga tujuan Outing bisa tercapai.

Outing ini bertujuan untuk menanamkan minat membaca para Peserta Didik SD Juara dan menggali lebih banyak ilmu dari buku yang mereka baca, dengan membaca diharapkan wawasan mereka semakin bertambah luas dan banyak ilmu yang mereka  dapatkan, sehingga mereka mampu bersaing di dunia pendidikan dengan kemampuan intelektual dan kemajuan teknologi saat ini.

Peserta Didik dengan penuh semangat bersiap berangkat menuju Perpustakaan Soeman HS Provinsi Riau, mereka berjalan kaki menuju Halte Bus Trans Metro Pekanbaru yang jaraknya sekitar 10 menit, raut wajah mereka penuh dengan keceriaan dan sepertinya sudah tidak sabar lagi untuk segera sampai di tempat tujuan.

Sesampainya di Perpustakaan Soeman HS Provinsi Riau, Peserta Didik Kelas 6 SD Juara diberi pengarahan tentang tata tertib peminjaman buku dan senantiasa menjaga ketertiban selama berada di perpustakaan Soeman HS. Mereka diberi tugas oleh Guru Kelas untuk membaca novel cerita anak kemudian membuat ringkasannya. Mahira salah satu peserta didik yang mengikuti kegiatan outing menuturkan bahwa kegiatan outing ini sangat menyenangkan, dan ringkasan novel cerita anak yang dirangkum menambah nilai edukasi yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (Mira Zulrahmi dan Nailul Author_SD Juara Pekanbaru)

Kamis, 17 September 2015

Kelompok Kerja Guru Kelas 4, 5, dan 6 “Pentingnya Bahasa Indonesia”

Pekanbaru, 9 September 2015 merupakan hari bersejarah bagi para Guru yang ada di ruangan itu. Sebab, hari itu para Guru diingatkan kembali akan pentingya Bahasa Indonesia dalam pelajaran apapun. Bertempat di SD Negeri 29 Pekanbaru, Bapak Naguib Nasution yang didaulat untuk memberikan materi pagi hingga di siang itu, sangat menginspirasi. Membaca, menulis, mendengar, dan berbicara adalah 4 aspek penting dalam Bahasa Indonesia. Guru SD Juara Pekanbaru yang turut menjadi peserta Kelompok Kerja Guru (KKG) Ki Hajar Dewantara ini adalah Bapak Kepala Sekolah Suriksodi Saputro, Guru Kelas 4, 5, dan 6 yaitu Bapak Taufik Hidayat, Ibu Reni Ulfia, dan Ibu Fitriyah Misdian.

Dalam penyampaiannya, beliau menyampaikan bahwa membaca ada beberapa tahapan, yaitu: membaca permulaan, membaca teknis-membaca bergiliran, membaca pemahaman, membaca indah dan membaca sekilas. Cara membaca pemahaman dapat digunakan cara: menjawab pertanyaan dalam melihat teks, dan menceritakan kembali isi teks. Adapun langkah belajar pemahaman yaitu: membaca sekilas, identifikasi kata sulit, mengartikan kata sulit, membaca intensif (dalam hati) dan tanya jawab isi bacaan. Langkah belajarnya harus berurutan seperti diatas, jangan hanya membaca, buat tugas, kemudian selesai karena ada anak yang bisa jadi tidak faham maksud kata sehingga tugas tak mampu diselesaikannya. Lalu, dalam mengartikan kata sulit dapat menggunakan teknik: diskusi dan tanya jawab atau menggunakan sinonim dari kata sulit.
Beliau menambahkan lagi ada beberapa teknik membaca, yaitu: teknik membaca sekilas (jika ada anak yang ribut, datangi, kemudian minta ia membaca). Kemudian membaca dalam hati: syaratnya 2: tidak boleh bersuara, dan waktu dibatasi tergantung teks.

Kemudian untuk para guru juga diberikan teknik bertanya kepada anak dari teks yang sudah dibacanya: Anak diingatkan dulu teks yang sudah dibacanya jangan langsung di todong:
Contoh salah: anak baru mulai belajar, langsung di suruh, “ sebutkan….!”
Contoh benar: “Dari teks yang sudah antum baca, sebutkan….”
Untuk teknik membaca pemahaman, anak-anak diminta close book, setelah itu tanya jawab atau menuliskan kembali isi bacaan, menceritakan kembali di depan kelas, dan meringkas bacaan. Dalam menuliskan kembali isi yang penting adalah para guru menghargai berapa yang ia hasilkan hari ini. “Jika nilainya tidak layak, jangan pakai angka tapi nilai tulisan saja”,ujar beliau.
Dari aspek mendengar, guru sebaiknya memiliki pegangan buku lain. Jika tidak ada, boleh buku siswa. Tekniknya, guru membacakan bukan anak yang membaca. Aspek ini bisa diperoleh dari rekaman suara berisi: cerita, puisi, percakapan, dan lagu. Untuk puisi, jika ada pelajaran tentang mengubah puisi ke prosa maka berikan tanda baca pada puisi tersebut sesuai penggalan kalimatnya. Yang dinilai dalam aspek ini adalah pemahaman dan tanggapan terhadap apa yang didengar.
Dalam aspek berbicara dapat dipakai metode: penugasan, diskusi, cerita, tanya jawab, dan dialog dan penilaiannya sewaktu KBM.Dalam aspek ini anak diberikan kebebasan berekspresi dengan sebelumnya Guru memberikan input cerita yang dapat berupa Buku Bacaan, pengalaman pribadi anak (tidak boleh ada dusta tapi sesuai kenyataan), atau hasil pengamatan.Hal yang dinilai adalah kelengkapan cerita, kesesuaian cerita dengan isinya, sistematika cerita, ketepatan lafal, penalaran, intonasi dan ekspresi anak.
Aspek terakhir adalah menulis. Dalam menulis, hal yang dinilai adalah kesesuaian tulisan dengan sumbernya, sistematika tulisan, penataan paragraf, penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan tanda baca, serta tulisan. Dalam meringkaas bacaan, beliau tidak menganjurkan untuk kelas 4 tapi boleh digunakan untuk Kelas 5 dan 6.

Agenda ini berlangsung sekitar pukul 09.00 WIB hingga 12.30 WIB. “Pelajaran yang sangat berharga. Dan hal ini juga menjadi jawaban atas masuknya Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan dalam Isi Sumpah Pemuda”, ucap Fitriyah Misdian salah seorang peserta KKG. Semoga ilmu yang beliau sampaikan bermanfaat. Dan aplikasi di lapangan sangat dianjurkan.


Rabu, 02 September 2015

Sosiodrama Sumpah Pemuda











Sosiodrama: "Detik-detik Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928" Mengajak siswa untuk ikut merasakan detik demi detik proses bersatunya seluruh Pemuda Indonesia yang menjadi cikal bakal pergerakan bersama menuju kemerdekaan indonesia.