Jumat, 27 Maret 2015

“Polisi, Manusia Peduli”



 
Rabu, 25 Maret  2015 peserta Didik Kelas 4 Ali Bin Abi Thalib SD Juara Pekanbaru sebanyak 25 orang didampingi guru kelas Rusmiati, Ibu Dwi Ratnawati  dan dua orang relawan RZ berkunjung ke Satlantas Polresta Pekanbaru. Kegiatan Ini merupakan salah satu agenda belajar langsung terutama hal-hal yang berhubungan dengan lalu lintas.


Rombongan SD Juara Pekanbaru berangkat mulai pukul 7.30 WIB menggunakan Bus. Sesampainya di sana, disambut oleh Ibu Surantik dan Ibu-ibu Polwan lainnya. Setelah memperkenalkan diri dan rombongan, Ibu Surantik kemudian mengajak Peserta Didik SD Juara Pekanbaru untuk menuju ke lapangan yang indah melihat rambu-rambu lalu lintas. Tampak mereka sangat antusias melihatnya karena tempatnya dibuat menarik dan sangat menggambarkan kondisi lalu lintas sebenarnya seperti: zebra cross, trafficc light, dan berbagai rambu.

Melewati tempat pembayaran pajak kendaraan bermotor dan halaman tempat ujian tulis dan praktek pembuatan SIM, selanjutnya peserta didik diajak melihat pakaian polisi yang dipakai saat bertugas dengan melihat pajangan model yang sudah disediakan. Lukisan menarik yang dipajang di tepi ruangan juga menyedot perhatian peserta didik. Ternyata,  itu adalah hasil karya dari Kakak-kakak SMA yang ikut lomba melukis tentang lalu lintas. Sangat indah dan menarik.

Dalam perjalanan di lapangan, terdapat juga posko penjagaan yang bertuliskan, “Tidak Menerima Suap”. Dan pemandangan yang mengesankan, peserta didik memperagakan diri sebagai polisi dan sebagai pengguna jalan yang hendak menyuap polisi ketika berbuat salah di jalanan.

Menurut Nazmi salah seorang peserta didik SD Juara Pekanbaru, dari kegiatan ini, ia dapat mengenal rambu lalu lintas dan mengetahui pakaian yang digunakan polisi saat bertugas, dan ia juga bercita-cita menjadi seorang polisi. Nazmi menyampaikan sambil tersenyum semangat. Dan kini, saatnya pulang, Peserta Didik berpamitan kepada Ibu-ibu Polwan. Polisi...Manusia Peduli.

Rabu, 25 Maret 2015

Nazmi, Sang Juara Puisi


Nazmi Yasfina adalah anak dari pasangan Bapak Yusrizal dan Ibu Rini Herlinda. Bapak Yusrizal bekerja sebagai penjual ikan keliling dari pasar kaget(pasar dadakan) yang satu ke pasar kaget berikutnya. Ibu Rini hanya mengurus rumah tangga.

Nazmi anak yang sering sakit, bahkan sekolah sempat heboh karena Nazmi mengaku bisa melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Di sekolah beberapa kali Nazmi terlihat kejang-kejang seperti kesurupan dan tiba-tiba pingsan. Pihak sekolah memanggil orang tua untuk menyelidiki lebih lanjut masalah ini. Orang tua diminta lebih memperhatikan Nazmi terutama berkenaan dengan benda-benda dan kebiasaan aneh yang dilakukannya. Kepada teman-teman diingatkan untuk tidak percaya begitu saja terhadap cerita Nazmi. Mereka juga diminta tidak terlalu ambil peduli terhadap prilaku nazmi yang berkaitan dengan ceritanya tentang makhluk halus. Seiring berjalannya waktu masalah ini sudah terselesaikan. Setelah naik ke kelas 4 Nazmi tidak lagi tenggelam dalam dunia lainnya. Siswa bersikap normal seperti teman-teman pada umumnya

Imajinasi Nazmi yang tinggi bisa dimanfaatkannya untuk mengarang puisi. Hal inilah yang dimanfaatkan sekolah. Nazmi diminta membuat puisi tentang bumi melayu. Melewati suntingan dan editan puisi nazmi didaftarkan untuk mengikuti lomba deklamasi puisi Matematika se-Riau yang dilaksanakan Mahasiswa program study Matematika Universitas Riau. Nazmi lalu dilatih intensif untuk membacakan puisinya di ajang tersebut. Suaranya yang kecil dilatih agar lebih besar dan tegas. Ekspresi wajah yang loyo dilatih berisi dan tegas. Berkat kegigihan dan motivasi yang tinggi untuk berprestasi Nazmi berhasil menjadi juara I lomba deklamasi puisi Matematika se-Riau.